Sabtu, 07 April 2012

Peranan Zat Makanan Bagi Ternak Ruminansia


KATA PENGANTAR
             Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Nutrisi Ruminansia.
            Adapun makalah yang sederhana ini membahas tentang “Peranan Zat Makanan”  makalah ini saya susun agar pembaca khususnya mahasiswa peternakan dapat memperluas ilmu tentang pakan ternak dan zat-zat makanan ternak,yang kami sajikan dengan berdasarkan pengamatan  dari berbagai sumber, walau sedikit ada rintangan namun dengan penuh kesabaran dan pertolongan dari Tuhan akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan.
           Tidak lupa juga  Saya capkan terima kasih yang tulus kepada bpk MUSLIM,S.Pt.MP selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Nutrisi Ruminansia yang telah membimbing kami agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun makalah Ini.

          Semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi para mahasiswa,  pelajar, Khususnya pada diri saya sendiri dan semua yang membaca makalah kami ini, Dan  Mudah mudahan Juga  dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca .
          Demi perbaikan makalah ini, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan.







                                                                                           Teluk Kuantan, April 2012
                                                                                                                                   
                                                                               
                                                                                                        Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................1
DAFTAR ISI...............................................................................................................2
BAB I Pendahuluan....................................................................................................3
1.1 Latar Belakang Masalah..........................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................................4
1.4 Metode Penulisan.....................................................................................................4
BAB II Pembahasan......................................................................................................5
2.1 macam-macam zat makanan....................................................................................5
2.1.1 Energi....................................................................................................5
2.1.2 Protein..................................................................................................6
2.1.3 Mineral..................................................................................................7
2.1.4 Vitamin..................................................................................................7
2.1.5 Air.........................................................................................................8
2.2 Kebutuhan Efisiensi...............................................................................................9
2.3 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Zat Makanan..................................10
BAB III Penutup........................................................................................................15
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................15
3.2 Kritik Dan Saran..................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................16







BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia telah mulai bertani dan beternak semenjak mereka mulai menetap.Dengan berjalannya waktu yang ribuan tahun,telah dicapai perkembangan dan perbaikan serta peningkatan hasil-hasil tanaman dan ternak sehubungan dengan bertambahnya pengalaman manusia di bidang ini.penelitian-penelitian yang dirancang guna peningkatan di bidang produksi pertanian yang didasarkan kepada ilmu pengetahuan yang telah berkembang semenjak abad ke 19.
Pada sektor produksi ternak masalah breeding,feeding,dan manajemen secara umum telah menunjang suatu proses produksi yang ekonomis efektif untuk bahan-bahan makanan yang berasal dari hewan.
Hewan-hewan ruminansia telah berhubungan erat dengan manusia sejak periode awal perkembangan manusia.manusia yang saat ini hidup dalam era dimana perkembangan ilmu pengetahuan dibidang teknologi saling berpacu.lewat penggunaan metode exsperimen yang modern dalam penelitian makanan ternak,telah manuntun para ahli kearah pengetahuan-pengetahuan baru yang merumuskan makanan ternak yang bagaimana yang tepat diberikan kepada ternak,khususnya ternak ruminansia.tetapi sering para ahli dihadapkan pada kesulitan,dimana persesuaian antara teori dan praktek masih saja merupakan tanda tanya.
Sehubungan dengan masalah diatas maka bidang-bidang berikut ini perlu diperhatikan:
1.berbagai aspek dari dasar-dasar nutrisi pada usaha peternakan dan makanan yang tepat untuk hewan ternak,sehingga terjamin perkembangan fisiologis dan produksinya.
2.penanganan masalah kesehatan dan produktifitas ternak.
3.hasil dari ternak untuk konsumsi manusia yang sebagai konsumen dengan      meningkatnya kesadaran mereka akan kualitas maknan,harus pula diimbangi secara bijak sana.
Kombinasi antara pengetahuan tentang bahan makanan ternak dan ilmu makanan ternak saat ini menawarkan kepada peternak,suatu kemungkinan pemenuhan kebutuhan ternakyang lebih pasti lewat makanan,tanpa pemborosan atau beban yang dapat merusak metabolisme hewan tersebut.





1.2    Rumusan Masalah
           Berdasarkan latar belakang masalah, masalah – masalah yang muncul adalah sebagai berikut :
   Induk ternak, baik induk dalam keadaan bunting atau sedang menyusui / laktasi memerlukan nutrien makanan yang baik dan seimbang dengan kebutuhannya. Defisiensi nutrien pakan pada induk bunting menyebabkan embrio yang sedang tumbuh dan berkembang bisa merusak kondisi induknya, dan menyebabkan terjadinya kematian fetus di dalam uterus atau terjadinya kelahiran anak yang lemah dan cacat. Sedangkan bila defisiensi pakan terjadi pada induk yang sedang menyusui / laktasi menyebabkan produksi
.
1.3   Tujuan Penulisan
Penulisan Makalah  ini bertujuan:
·         Mengetahui kebutuhan nutrien / zat gizi pada ternak fase induk bunting maupun induk menyusui / laktasi
·         Mengetahui pengaruh defisiensi nutrien / zat gizi pada kondisi tubuh induk



1.4  Metode Penulisan
              Adapun metode penulisan makalah ini dari berbagai sumber buku-buku Peternakan  dan internet yang berhubungan dengan topik Makalah.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1 macam-macam zat makanan
        2.1.1 Energi
Nutrisi yang paling terbatas bagi ternak ruminansia adalah energi. Sumber energi untuk ternak ruminansia dapat berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein.
a.    Karbohidrat
Sumber utama energi untuk ternak ruminansia adalah karbohidrat yang berasal dari komponen serat kasar dalam pakan. Komponen tersebut adalah selulosa dan hemiselulosa serat zat pati yang terdapat pada hijauan pakan.
b.    Lemak
Lemak dalam pakan dapat digunakan sebagai sumber energi. Jumlah lemak dalam bahan pakan ternak ruminansia umumnya tidak banyak.
c.    Protein
Protein dapat pula digunakan sebagai energi, tetapi penggunaan protein sebagai energi nilai efisiensinya rendah. Disamping itu, harga pakan yang mengandung protein umumnya mahal.
Sebagai sumber energi terbesar untuk ternak ruminansia adalah hijauan dan biji-bijian serta hasil ikutannya. Biji-bijian dan hasil ikutannya dapat meningkatkan kebutuhan energi dalam ransum untuk waktu tertentu.






2.1.2      Protein
Molekul protein mengandung N, sulfur, dan fosfor yang berguna untuk pembentukan jaringan tubuh baru, pertumbuhan, dan merupakan sumber energi. Protein lebih banyak dibutuhkan oleh ternak ruminansia yang sedang tumbuh. Protein juga untuk menggantikan jaringan tubuh yang sudah rusak pada ternak dewasa atau tua.
Ternak ruminansia dapat memanfaatkan senyawa nitrogen bukan protein sebagai sumber protein karena bantuan mikroorganisme dalam rumen dan retikulum. Mikroorganisme tersebut dapat mengubah nitrogen bukan protein menjadi protein mikroba. Jumlah pemberian nitrogen bukan protein ini, misalnya urea tidak boleh lebih dari 3 % dari seluruh bahan kering yang dikonsumsi.
Bahan pakan yang memiliki kadar protein bermutu tinggi adalah bahan pakan yang kandungan proteinnya mendekati susunan protein tubuh, seperti tepung ikan dan tepung darah. Akan tetapi, ternak ruminansia tidak memerlukan protein yang bermutu tinggi seperti pada ternak ayam dan babi. Alasannya, ternak ruminansia di dalam rumennya akan terjadi proses pencernaan mikrobial, mikroba mati dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein. Ternak ruminansia yang mengalami kekurangan hijauan, khususnya jenis leguminosa, dapat diberi pakan tambahan berupa pakan penguat yang banyak mengandung protein. Pakan penguat ini untuk mengatasi kekurangan zat-zat yang terdapat dalam hijauan tersebut. Sebaliknya, jika di dalam ransum terlalu banyak kandungan protein yang tidak terpakai akan dibuang keluar bersama feces dan urine.
Bahan pakan sebagai sumber protein:
a.    pakan penguat: tepung ikan, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dan bungkil kacang tanah.
b.    hijauan: semua jenis leguminosa seperti daun turi, lamtoro, kaliandra, dan glyricidia.





2.1.3      Mineral
Tubuh memerlukan mineral yang digunakan untuk membentuk tulang (kerangka), gigi, darah, jaringan tubuh, dan untuk berproduksi. Mineral juga merupakan komponen enzim yang berfungsi penting dalam proses metabolisme. Untuk pemeliharaan kesehatan tubuh dan keperluan berproduksi diperlukan mineral dalam jumlah yang sedikit. Walaupun jumlah mineral yang dibutuhkan tubuh hanya sedikit, tetapi zat ini mutlak dibutuhkan.
Unsur mineral yang dibutuhkan ternak dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.    mineral makro, seperti Ca, P, Mg, K, NaCl
2.    mineral mikro, seperti Fe, Cu, Mo, Zn, Co
Mineral mikro dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil daripada mineral makro. Untuk domba yang sedang tumbuh dan untuk pembaharuan sel-sel yang berlangsung terus-menerus, serta untuk keperluan berproduksi, dibutuhkan Ca, P, NaCl, Fe, K, dan I. Ternak domba yang ransumnya kurang mineral, biasanya akan sering terlihat menjilat-jilat tanah (batu merah), dinding, atau kayu.
Bahan pakan sumber mineral umumnya terdapat pada pakan berbutir dan hasil ikutannya serta hijauan. Pakan berbutir kaya akan unsur P, sedangkan hijauan kaya Ca, tetapi unsur P-nya kurang, kecuali hijauan jenis leguminosa. Tepung tulang kaya akan Ca dan P, sedangkan kapur (giling) merupakan sumber Ca yang paling bagus dan harganya pun murah.
2.1.4      Vitamin
Vitamin memegang peranan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh ternak. Karena vitamin mempunyai fungsi penting dalam pengaturan proses metabolisne zat-zat pakan. Vitamin yang dibutuhkan ternak biasanya tersedia cukup dalam campuran bahan pakan. Vitamin yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K) dan vitamin yang larut dalam air (B dan C). Kecuali vitamin A, D, dan E, vitamin-vitamin lainnya dapat dibentuk di dalam tubuh ternak oleh mikroorganisme yang ada di dalam rumen dan retikulum.


a.    Vitamin A
Vitamin A mempunyai banyak kegunaan, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.    Untuk menguatkan jaringan-jaringan epitel. Jaringan ini terdapat pada alat pencernaan, saluran pernapasan, kulit panca indera, dan alat reproduksi
2.    Untuk keperluan pertumbuhan dan berproduksi
3.    Untuk pertambahn berat badan
Vitamin A dibentuk dari provitamin A (karoten). Warna kuning pada umbi-umbian dan butir-butir hijauan sebagai provitamin A, oleh dinding usus halus diubah menjadi vitamin A. Karoten menjadi hancur jika hijauan tersebut dikeringkan. Oleh karena itu, kekurangan vitamin A pada ternak ruminansia umumnya terjadi pada musim kemarau panjang atau ternak itu diberi hijauan yang telah tua atau hanya jerami dalam waktu yang cukup lama. Sebaliknya, pada kondisi iklim yang baik akan menjamin pertumbuhan hijauan yang subur sehingga dapat terjadi kelebihan vitamin A. Kelebihan vitamin A akan disimpan di dalam hati.
Pada umumnya, hijauan segar banyak mengandung karoten. Demikian pula hijauan di lapangan penggembalaan dan silase. Sebaliknya, kandungan karoten akan merosot bila hijauan segar disimpan terlalu lama. Kekurangan vitamin A yang diderita dimba dapat mengakibatkan menurunnya kesuburan, keguguran, mandul, atau fertilitas rendah bagi ternak jantan.
Apabila sebgian besar daun pada hijauan masih berwarna hijau, berarti provitamin A masih tetap bertahan. Hijauan yang dipanen pada saat masih muda, provitamin A lebih tinggi dibandingkan dengan hijauan tua.
b.    Vitamin B
Vitamin B meliputi vitamin B1, B2, B6, dan B12. Vitamin ini sepenuhnya dapat dibentuk di dalam tubuh hewan ruminansia. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya defisiensi vitamin B pada domba yang berumur lebih dari satu tahun sangat kecil, kecuali jika ternak tersebut kekurangan pakan. Karena di dalam rumen ternak ruminansia, bakteri yang ada di dalam rumen tersebut mampu membentuk vitamin B kompleks. Bagi induk yang sedang menyusui, air susunya juga banyak mengandung vitamin B kompleks yang sangat penting bagi kesehatan anak.Semua hijauan merupakan sumber vitamin B kompleks yang baik, kecuali vitamin B2.
c.    Vitamin D
Vitamin D berguna dalam proses metabolisme dan mengatur keseimbangan penggunaan unsur Ca dan P di dalam tubuh, utamanya untuk pembentukan tulang. Vitamin D dalam tubuh dibentuk dengan bantuan sinar matahari karena di bawah kulit terdapat provitamin D yang apabila terkena sinar matahari akan terbentuk vitamin D.
Di daerah tropis, kemungkinan domba mengalami defisiensi sangat kecil, asalkan setiap hari memperoleh sinar matahari pagi selama 1-2 jam (antara 07.00 – 09.00)
2.1.5      Air
Air merupakan salah satu unsur di dalam tubuh ternak yang sifatnya sangat vital bagi setiap sel tubuh yang hidup. Karena air berfungsi untuk mengatur temperatur tubuh, membantu proses pencernaan, mengisap zat makanan melalui dinding usus, mengangkut zat makanan ke seluruh jaringan tubuh, serta mmbuang zat racun sebagai sisa metabolisme melalui pori-pori kulit, urine, dan pernapasan.










2.2 Kebutuhan Efisiensi
                     Pemeliharaan sapi dengan sistem feedlot akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang lebih cepat dan mempunyai efisiensi pakan yang lebih balk. Pemanfaatan ampas bir, yang masih inengandung protein tinggi, diharapkan akan dapat menggantikan peran konsentrat dalam pakan temak mminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efisiensi pakan sapi yang dipelihara. Dengan sistem feedlot dengan pemberian pakan konsentrat yang ditambah ampas bir. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Ilmu Temak Potong dan Kerja, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Materi yang digunakan berupa 8 ekor sapi Peranakan Ongole jantan, umur ± 2 tahun dan bobot badan 200,88 + 20,60 kg (CV: 10,25%). Bahan pakan yang diberikan berupa pakan kasar (rumput raja) sebanyak 30% dart kebutuhannya dan konsentrat sebanyak 70% dart total kebutuhan. Konsentrat yang diberikan herupa konsentrat pabrik dan ampas bir. Pakan diberikan sebanyak 2,5% dart bobot hadan. Perlakuan pakan yang diterapkan adalah To = pakan kasar (30%) + konsentrat pabrik (70%) pakan kasar (30%) + konsentrat pabrik (50%) + ampas bir (20%) Penclitian in dimulai dengan fase pendahuluan selama I minggu dan dilanjutkan fireman lase perlakuan selatna 3 butaly Konsentrat diberikan 3 kali sehari sebelum pemberian hijauan. Air rninurn diberikan secara ad libitum.
                Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi bahan kering pakan dan rata-rata pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Berdasarkan data tersebut, maka dapat dihitung efisiensi pakannya. Basil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi BK hijauan relatif sama untuk scmua sapi (rata-rata konsumsi BK hijauan sapi To- 3,00 kg dan sapi Tr= 3,15 kg). Rata¬rata konsumsi BK konsentrat untuk sapi Ta- 2,84 kg lebih rendah (P<0,05) bila dibandingkan dengan sapi Ti= 3,77 kg Hal inilah yang menyebabkan konsumsi BK total sapi To (5,84 kg) berbeda nyata (P<0,05) bila dibandingkan dengan sapi Ti (6,91 kg).
              Apabila total konsumsi bahan kering diperhitungkan berdasarkan bobot badannya, maka sapi To rata-rata mengkonsumsi khan kering 2,75% dari bobot badannya, sedangkan sapi sebesar 2,94% dart bobot badannya. Rata-rata pertambahan bobot badan harian sapi T1 (0,72 kg) lebih besar (p<0,01) bila dibandingkan dengan To (0,37 kg). Rata-rata efisiensi pakan sapi T, (10,52%) lebih tinggi (P<0,01) bib dibandingkan dengan sapi To (6,39%). Berdasarkan basil penelitian dapat disimpulkan bahwa sapi yang dipelihara dengan pakan konsentrat yang ditamban ampas bir mempunyai produktivitas yang lebih bait Sapi tersebut mempunyai pertambahan bobot badan serta efisiensi pakan yang lebih tinggi.





2.3  Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Zat Makanan Pada Ternak Ruminansia
Secara garis besar pada ternak ruminansia ada 2 alasan yang menjadi dasar untuk mengelompok faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi (intake)makanan.
1.atas dasar kapasitas daya tampung(volume) saluran pencernaan
2.intensitas perubahan secara kimia yang terjadi di dlm organ2 hewan.
Ransum dengan daya cerna rendah menyebabkan suatu pengaruh yang berbentuk pengaturan yang Preabsorptiv (secara fisik) pada ransum dengan daya cerna tinggi,yg berperan dlm reaksi pencernaan adalah faktor2 Postabsorptifyg fisiologis metabolic.


2.3.1 Faktor Faktor Jangka Panjang Yg Mempengaruhi Konsumsi Makanan Pd Ternak Ruminansia

Pada ternak ruminansia,derajat perlemakan tubuh ternyata mempengaruhi jumlah konsumsi makanan,yang mana bila hewan makin gemuk konsumsi makanannya makin berkurang.masih belum dapat dipastikan mekanisme apa yang menyebabkan hal yang demikian.

Pengaruh lapar fisiologis yang misalnya sebangai akibat dari produksi susu yang tinggi terhadap konsumsi makanan diperoleh imformasi yang berbeda-beda.

Pada induk domba yang sedang laktasi dengan dua anak ternyata konsumsi makanannya 10% lebih banyak dari pada induk domba yang beranak satu.

2.3.2 Faktor-Faktor Jangkah Pendek Yang Mempengaruhi Konsumsi Pada Ternak Ruminansia

Pengaturan preabsorptif yang secara fisik pada ternak ruminansia mempunyai arti tersendiri.makanan hijauan yang pada umumnya mengandung energi rendah,bila harus dikonsumsi dalam jumlah yang dapat menjamin terpenuhnya kebutuhan hewan akan zat-zat makanan ternyata akan menimbulkan kesulitan,karna kapasitas daya tampung atau volume dari lambung tidak memadai untuk jumlah makanan yang demikian.berkemukingkinan besar tercapainya pemenuhan lambung secara fisiologis ada hubungannya dengan reseptor yang mengatur peregangan
Yang terdapat dalam dinding lambung.hewan bertubuh  besar mengkomsumsi makanan lebih banyak,karena antara ukuran tubuh sekalian juga berat tubuh dan velume rumen mempunyai suatu hubungan yang sangat erat.pada sapi perah di dapat kan bahwa konsumsi bahan kering untuk setiap 100 kg berat badan berkisar antara 0,5-2,0 kg.
          Sekalipun seekor ruminansia telah mencapai kedewasaannya,ukuran volume lambung tidak terjamin kestabilannya.pada saat bunting tua,daerah atau ruang abdomennya mengalami penyempitan sebagai akibat dari perkembangan kebuntingan tersebut.setelah melahirkan (sapi dan domba) saluran pencernaan ini perlahan –lahan melebarkan diri.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
         Pakan yang diberikan bagi ternak harus mengandung nutrien yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya, baik untuk kebutuhan hidup pokok, produksi, dan untuk cadangan bagi tubuh induk. Kebutuhan nutien tersebut harus terpenuhi agar tidak terjadi gangguan fungsi organ pada ternak . Kebutuhan akan nutrien pakan utamanya diperoleh dari hijauan, baik berupa rumput, maupun legum, kekurangan zat gizi dari pemberian hijauan dapat dipenuhi melalui pemberian konsentrat.
Nutrien pakan yang diberikan bagi ternak  tidak hanya dimanfaatkan oleh tubuhnya saja, tetapi juga oleh fetus (induk bunting). Selain itu, ternak yang sedang menyusui juga memanfaatkan nutrien pakan untuk produksi susu yang penting untuk tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, kebutuhan nutrien pakan tidak saja mempengaruhi kondisi tubuh induk, juga mempengaruhi kondisi anak, baik sebelum maupun setelah dilahirkan.
3.2 Kritik dan Saran
         Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik    dan       saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.













DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. UGM Press. Yogyakarta.


Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries.

Materi Kuliah Produksi Ternak Potong dan Kerbau. Oleh: Sauland Sinaga.

Materi Kuliah Produksi Ternak Perah. Oleh: Enni Sukraeni dan Hermawan.

Sudarmo, S dan Sugeng, Bambang. 2008. Beternak Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suryahadi, dkk. 1997. Manajemen Pakan Sapi Perah. IPB. Bogor.

Tillman, Allen D, dkk. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press. Yogyakarta.



























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar