Kamis, 13 Desember 2012

Penyakit-Penyakit Reproduksi Pada Sapi


PENYAKIT-PENYAKIT REPRODUKSI

1. Penyakit Brucellosis (Keluron Menular)
Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder berbagai jenis ternak lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal sebagai penyakit Kluron atau pemyakit Bang. Sedangkan pada manusia menyebabkan demam yang bersifat undulans dan disevut Demam Malta. Jasad renik penyebab รจ Micrococcus melitensis yang selanjutnya disebut pula Brucella melitensis.
         Bakteri Brucella untuk pertama kalinya ditemukan oleh Bruce (1887) pada manusia dan dikenal sebagai Micrococcus miletensi. Kemudian Bang dan Stribolt (1897) mengisolasi jasad renik yang serupa dari sapi yang menderita kluron menular. Jasad renik tersebut diberi nama Bacillus abortus bovis. Bakteri Brucella bersifat gram negatif, berbentuk batang halus, mempunyai ukuran 0,2 - 0,5 mikron dan lebar 0,4 - 0,8 mikron, tidak bergerak, tidak berspora dan aerobik. Brucella merupakan parasit intraseluler dan  dapat diwarnai dengan metode Stamp atau Koster.  Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3  spesies, yaitu Brucella melitensis, yang menyerang pada kambing, Brucella abortus,  yang menyerang pada sapi dan Brucella suis, yang menyerang pada babi dan sapi.
         Brucella memiliki 2 macam antigen, antigen M dan antigen a. Brucella melitensis memiliki lebih banyak antigen M dibandingkan antigen A, sedangkan Brucella abortus dan Brucella suis sebaliknya. Daya pengebalan akibat infeksi Brucella adalah rendah karena antibodi tidak begitu berperan.
Kerugian ekonomi yang diakubatkan oleh brucellosis sangat besar, walaupun mortalitasnya kecil. Pada ternak kerugian dapat berupa:
  • kluron, anak ternak yang dilahirkan lemah, kemudian mati, terjadi gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran temporee atau permanen.
  • Kerugian pada sapi perah berupa turunnya produksi air susu.
Brucellosis merupakan penyakit beresiko sangat tinggi, oleh karena itu alat-alat yang telah tercemar bakteri brucella sebaiknya tak bersentuhan langsung dengan manusia. Sebab penyakit ini dapat menular dari ternak ke manusia dan sulit diobati, sehingga brucellosis merupakan zoonosis yang penting. Tetapi manusia dapat mengkonsumsi daging dari ternak-ternak yang tertular sebab tidak berbahaya apabila tindakan sanitasi minimum dipatuhi dan dagingnya dimasak. Demikian pula dengan air susu dapat pula dikonsumsi tetapi harus dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu.
 Pada kambing brucellosis hanya memperlihatkan gejala yang samar-samar. Kambing kadang-kadang mengalami keguguran dalam 4 - 6 minggu terakhir dari kebuntingan. Kambing jantan dapat memperlihatkan kebengkakan pada persendian atau testes.
Pada sapi gejala penyakit brucellosis yang dapat diamati adalah keguguran, biasanya terjadi pada kebuntingan 5 - 8 bulan, kadang diikuti dengan kemajiran, Cairan janin berwarna keruh pada waktu terjadi keguguran, kelenjar air susu tidak menunjukkan gejala-gejala klinik, walaupun di dalam air susu terdapat bakteri Brucella, tetapi hal ini merupakan sumber penularan terhadap manusia. Pada ternak jantan terjadi kebengkakan pada testes dan persendian lutut.
Selain gejala utama berupa abortus dengan atau tanpa retensio secundinae (tertahannya plasenta), pada sapi betina dapat mempperlihatkan gejala umum berupa lesu, napsu makan menurun dan kurus. Disamping itu terdapat pengeluaran cairan bernanah dari vagina.
        Pada sapi perah, brucellosis dapat menyebabkan penurunan produksi susu. Seekor sapi betina setelah keguguran tersebut masih mungkin bunting kembali, tetapi Tingkat kelahirannya akan rendah dan tidak teratur. Kadang-kadang fetus yang dikandung dapat mencapai tingkatan atau bentuk yang sempurna tetapi pedet tersebut biasanya labir mati dan plasentanya tetap tertahan (tidak keluar) serta disertai keadaan metritis (peradangan uterus). Brucellosis penyakit dapat menulari semua betina yang telah dewasa kelamin dan dapat menyebabkan abortus.
Pada sapi betina bakteri Bang terdapat pada uterus, terutama pada endometrium dan padaruang diantara kotiledon. Pada plasenta, bakteri dapat ditemukan pada vili, ruang diantara vili dan membran plasenta yang memperlihatkan warna gelap atau merah tua. Pada fetus, bakteri Brucella dapat ditemukan dalam paru-paru dan dalam cairan lambung. Pada pejantan bakteri brucella dapat ditemukan dalam epydidymis, vas deferens dan dalam kelenjar vesicularis, prostata dan bulbourethralis. pada infeksi berat bakteri dapat berkembang dalam testes, khususnya dalam tubuli seminiferi.
Perubahan pasca mati yang terlihat adalah penebalan pada plasenta dengan bercak-bercak pada permukaan lapisan chorion. cairan janin terlihat keruh berwarna kuning coklat dan kadang-kadang bercampur nanah. Pada ternak jantan ditemukan proses pernanahan pada testikelnya yang dapat diikuti dengan nekrose.
Usaha-usaha pencegahan terutama ditujukan kepada vaksinasi dan tindakan sanitasi dan tata laksana. Tindakan sanitasi yang bisa dilakukan yaitu
  1. sisa-sisa abortusan yang bersifat infeksius dihapushamakan. Fetus dan plasenta harus dibakar dan vagina apabila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama 1 minggu
  2. bahanbahan yang biasa dipakai didesinfeksi dengan desinfektan, yaitu : phenol, kresol,
  3. amonium kwarterner, biocid dan lisol
  4. hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang mengalami kluron. Apabila seekor ternak pejantan mengawini ternak betina tersebut, maka penis dan preputium dicuci dengan cairan pencuci hama
  5. anak-anak ternak yang lahir dari induk yang menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis
  6. kandang-kandang ternak penderita dan peralatannya harus dicuci dan dihapushamakan serta ternak pengganti jangan segera dimasukkan.
Pengobatan : Belum ada pengobatan yang efektif terhadap brucellosis.
 
2. Vibriosis
Vibriosis pada sapi disebabkan oleh kuman Campylobacter fetus veneralis yang mengakibatkan gangguan proses reproduksi. Sapi yang terserang penyakit ini umumnya memperlihatkan rata-rata kawin berulang sebanyak 5 kali kawin alam (antara 5-25 kali), siklus birahi menjadi lama dan tidak teratur (25-55 hari), lendir pada saat birahi terlihat keruh karena pernanahan. Abortus terjadi pada umur 2-3 bulan kebuntingan. Penyakit ini menular hanya melalui semen, yaitu melalui perkawinan alam atau inseminasi buatan (IB) dengan semen tercemar.
 Penularan dari betina terinfeksi ke betina sehat tidak pernah dilaporkan. Diagnosa penyakit berdasarkan gejala klinis sulit dilakukan, tetapi adanya perpanjangan masa kawin dan jarak beranak patut dicurigai adanya Vibriosis . Diagnosa penyakit dengan tepat dapat dicapai melalui prosedur diagnostik, yaitu isolasi agen penyakit . Secara serologi penyakit juga dapat didiagnosis melalui pendeteksian antigen dari cairan lendir saluran reproduksi 60 hari setelah perkawinan.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan menggunakan IB, atau pejantan yang bebas Vibriosis. Vaksinasi dapat mencegah infeksi penyakit. Ternak jantan yang sakit dapat diobati dan sembuh dengan menggunakan antibiotik seperti streptomisin dosis tinggi secara subkutan disertai pemberian secara lokal pada sarung dan glands penis (pejantan), atau 1 gram streptomisin secara intrauterin setelah inseminasi untuk mencegah infeksi pada hewan betina .
3. Leptospirosis
Leptospirosis pada sapi disebabkan oleh beberapa serovar kuman Leptospira mengakibatkan  gangguan proses reproduksi berupa abortus pada akhir trimester dari kebuntingan, kemajiran, serta kelemahan pada anak yang dilahirkan. Pada sapi yang terinfeksi akut, selain terjadi abortus, gejala yang terlihat berupa turunnya nafsu makan, kehilangan berat badan, mastitis (dengan air susu yang sangat kental dan berwarna kuning tua), demam, cairan urin berdarah .
Gangguan reproduksi dapat berlangsung sampai setahun dalam bentuk meningkatnya S/C, tertahannya plasenta, serta anak yang dilahirkan lemah dan biasanya mati. Cara penularan penyakit ini melalui pakan, air dan lingkungan yang tercemar oleh urin hewan yang mengandung kuman Leptospira. Kuman masuk melalui hidung (aerosol) atau mulut (rumput, air) terus ke saluran pencernaan dan akhirnya ke ginjal . Sapi yang sembuh dari penyakit ini masih mengeluarkan kuman Leptospira sampai 2-3 bulan atau lebih dalam urinnya. Penularan juga dapat melalui semen pejantan yang terinfeksi.
Diagnosa penyakit dipaparkan pada peningkatan titer antibodi dalam serum (serum yang dikoleksi pada dua waktu berbeda) yang diperiksa secara uji serologis. Isolasi agen penyakit dari cairan urin atau darah merupakan diagnosa definitif. Pencegahan penyakit melalui upaya perbaikan sanitasi/manajemen sangat sulit mengingat banyak spesies hewan (liar atau domestik) juga dapat terserang oleh kuman Leptospira. Hewan-hewan tersebut yang sering berkeliaran di lokasi peternakan akan selalu menjadi ancaman. Oleh karena itu pencegahan yang paling tepat adalah melalui vaksinasi secara rutin setiap tahunnya.
4. Listeriosis
Kejadian Listeriosis pada sapi domestikasi sangat jarang, namun bila terserang dapat mengakibatkan kerusakan pada otak dan membran selaput otak, serta mengakibatkan abortus. Abortus terjadi pada 4-7 bulan umur kebuntingan . Cara penyebaran penyakit melalui pakan atau air yang terkontaminasi, terutama tercemar oleh feses, cairan lendir vaginal atau saluran pernafasan dari ternak domba yang terinfeksi .
Diagnosis terbaik adalah dengan mengisolasi agen penyakitnya. Pencegahan dilakukan dengan memperhatikan sanitasi pakan dan air/lingkungan . Pengobatan hewan sakit dilakukan dengan pemberian antibiotik penisilin
dan tetrasiklin untuk mengurangi tingkat kematian. Penyakit ini juga menular ke manusia akibat menangani abortusan, atau minum susu segar dari hewan terinfeksi.


5. Bovine Trichomoniasis
Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Trichomonas fetus mengakibatkan abortus pada umur kebuntingan muda, pyometra serta ternak menjadi steril .Gejala penyakit ini mirip dengan infeksi Campylobacter fetus, namun lebih menonjol pada pyometra disertai akumulasi nanah sehubungan dengan degenerasi fetus dalam uterus . Pada kelompok ternak terjadi kejadian yang tinggi adanya cairan lendir bercampur nanah dari saluran reproduksi.
Diagnosis penyakit dilakukan, selain dengan memperhatikan gejala klinis, juga dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap protozoa dalam cairan lendir dari hewan betina atau bilasan prepusium pejantan.
Pencegahan dilakukan dengan: bila pada kelompok ternak ditemukan penyakit ini, maka pelaksanaan perkawinan pada betina lainnya diistirahatkan . Pemeriksaan pyometra dilakukan, ternak yang sakit kemudian diberi antibiotik. Pejantan yang terinfeksi sebaiknya dipotong . Pejantan dapat juga diobati dengan sodium iodide, acroflavin, dan bonoflavin salep. Istirahat seksual bagi betina diikuti sekurang-kurangnya disarankan satu tahun. Penggunaan vaksin pada hewan yang belum terinfeksi dapat dilakukan, tetapi tidak efektifpada hewan yang telah terinfeksi.
6. Toxoplasmosis
Penyakit ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Pada sapi betina Toxoplasmosis mengakibatkan abortus pada akhir umur kebuntingan . Jika pedet sempat lahir maka terjadi kelemahan atau kelahiran muda, disertai tertahannya plasenta.
Diagnosis penyakit dilakukan dengan mengisolasi agen penyakit atau pengujian serologis. Pemeriksaan mikroskopik dari daerah nekrotik plasenta dapat memperlihatkan agen penyakit ini.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan memutus siklus hidup dari Toxoplasma, yaitu mencegah tertelannya oosit dari lingkungan yang tercemar (kotoran kucing terinfeksi) .
7. Bovine viral diarrhea (BVD)
Pada sapi, penyakit BVD disebabkan oleh virus bovine diarrhea . Penyakit ini menimbulkan 4 bentuk gejala klinis, yaitu:
1) bentuk subklinis, tidak terlihat gejala;
2) bentuk kronis, ada gejala tapi tidak jelas seperti berkurangnya nafsu makan, kelesuan, diare ringan, pertumbuhan yang lamban;
3) bentuk akut, memperlihatkan diare profusa, demam, erosi pada saluran gastrointestinal ;
4) bentuk mukosa, paling berat, ditandai dengan gejala akut disertai adanya perlukaan pada selaput lendir ruang mulut dan saluran pencernaan. Pada bentuk ini hewan akan mati pada sekitar hari ke- 14 setelah infeksi .
Bentuk ini sangat sering terjadi pada sapi umur mulai 8 sampai 18 bulan. Pada sapi bunting, infeksi virus mengakibatkan kematian fetus dan abortus . Kebanyakan abortus terjadi pada umur kebuntingan 3 sampai 4 bulan. Infeksi virus BVD pada umur kebuntingan pertengahan trimester mengakibatkan cacat pada otak, mata dan bulu. Cacat otak dan mata lebih sering terjadi daripada terjadinya kelainan bulu.
Diagnosa penyakit dilakukan dengan mengisolasi agen penyakit atau pemeriksaan antibodi setelah terjadi abortus . Penularan penyakit terjadi karena kontak dengan cairan lendir mukosa hewan terinfeksi atau lingkungan tercemar. Penularan dapat terjadi melalui semen pejantan, baik melalui kontak seksual atau melalui IB.
 Pencegahan penyakit dilakukan melalui mencegah kontak dengan hewan sakit (memperlihatkan gejala klinis), lingkungan tercemar (terkena lendir hewan sakit), menggunakan pejantan bebas BVD pada kawin alam, atau penggunaan semen bebas BVD pada IB. Alternatif pencegahan penyakit adalah melakukan vaksinasi hewan terhadap virus BVD. Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) Jika virus IBR menyerang sistem reproduksi sapi betina, maka akan terlihat gejala klinis pustular vulvovaginitis profusa . Lendir bernanah dapat terlihat keluar dari liang vulva. Sapi betina memperlihatkan kemajiran temporer. Sapi betina yang terinfeksi virusn IBR, baik tipe pernafasan maupun vulvovaginitis, dapat berakibat pada abortus fetus mulai 3 minggu sampai 3 bulan setelah mengalami infeksi. Tanda lainnya yang umum adalah tertahannya plasenta. Pada sapi jantan, gejala klinis yang tampak adalah perlukaan bernanah pada glands penis.
 Adanya rasa sakit pada alat kelamin ini dapat menghambat aktivitas kontak seksual pejantan dengan sapi betina. Diagnosis penyakit disamping dengan memperhatikan gejala klinis, juga dilakukan dengan mengisolasi agen penyakitnya. Penularan penyakit dapat terjadi melalui semen terinfeksi, kontak dengan cairan lendir mukosa hewan terinfeksi, atau dengan lingkungan tercemar. Pencegahan penyakit pada sapi betina dilakukan dengan mencegah kontak seksual dengan pejantan terinfeksi, tidak menggunakan semen terinfeksi pada program IB, serta mencegah kontak dengan hewan sakit IBR (lendir mukosa atau lingkungan tercemar virus IBR). Vaksinasi cukup efektif untuk mencegah terjadinya penularan penyakit.
8. Bluetongue
Pada sapi, penyakit Bluetongue mengakibatkan gejala klinis pada mulut dan kaki, serta dapat mengakibatkan abortus (meskipun tidak selalu), kelemahan pedet atau pedet lahir belum cukup umur. Hilangnya koordinasi otot serta kebutaan juga dapat terjadi akibat infeksi penyakit ini.
Diagnosis penyakit dilakukan dengan mengisolasi agen penyakitnya, atau pemeriksaan antibodi dalam serum berpasangan (sebelum dan setelah terjadi infksi penyakit). Penularan terjadi melalui perantara nyamuk Culicoides yang menghisap darah hewan sakit atau karier. Penularan penyakit melalui kontak seksual. Strategi Alternatif Pengendalian Penyakit Reproduksi Menular untuk Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Sapi Potong dengan pejantan terinfeksi atau semen terinfeksi pada program IB adalah sangat memungkinkan.
Cara pencegahan penyakit adalah dengan melakukan vaksinasi, mencegah perkawinan alam dengan pejantan terinfeksi, serta menghindari penggunaan semen terinfeksi pada program IB.
9. Mikosis
Gangguan reproduksi ternak sapi yang diakibatkan oleh infeksi kapang, utamanya adalah Aspergillus fumigatus, A. absidia dan A. mucor. Hal ini terbukti dengan adanya kapang tersebut pada fetus yang diaborsikan (membran fetus atau isi perut fetus)
. Abortus akibat infeksi kapang terjadi pada pertengahan atau akhir umur kebuntingan. Infeksi pada ternak sapi terjadi karena temak menelan/menghirup spora dari pakan yang berjamur.
 Cara pencegahannya adalah dengan menghindarkan sapi dari pakan berjamur. Cara penyimpanan pakan yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam pencegahan penyakit ini.













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar