Jumat, 14 Desember 2012

Makalah Pengendalian Penyakit pada Sapi Potong


I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Potensi sapi potong di Indonesia sangat menjanjikan, dengan keadaan tanah yang subur sehingga pakan berupa hijauan yang merupakan kebutuhan sapi seharusnya juga lebih mudah didapatkan. Peternakan sapi telah dikenal sejak lama sebagai usaha sampingan masyarakat Indonesia, akan tetapi baru sedikit yang benar benar mengelolanya sebagai lahan usaha ataupun bisnis. Rata-rata penduduk memelihara sapi potong hanya sebagai harta simpanan saja, padahal potensi peternakan sapi itu sendiri bila dikelola secara baik dan benar sangat besar.
Hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus berkaitan dengan kesuksesan ternak sapi potong adalah selalu menjaga kesehatan ternak. Kontrol kesehatan sapi yang baik adalah langkah penting dalam beternak sapi potong. Pengendalian berbagai penyakit menular pada sapi adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian, sebagaimana kita tahu bahwa pengendalian penyakit jauh lebih baik daripada pengobatan.
 Hal ini bisa di mengerti dikarenakan bila ternak sapi kita sudah terkena penyakit  otomatis biaya yang dibutuhkan juga akan bertambah, dan bukanlah suatu jaminan bahwa setelah diobati ternak akan sembuh. Karena untuk dapat mencapai kesembuhan dari suatu penyakit ada banyak faktor yang berpengaruh. Jadi hal terbaik adalah mencegah peyakit sapi sebelum menyerang ternak tersebut.

1.2.  Tujuan
1.        Mengetahui manajemen pengendalian penyakit pada ternak potong.
2.        Mengetahui penyakit-penyakit yang menyerang ternak potong.
1.3.  Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan peserta diklat sapi potong bagi penyuluh dan petugas teknis dilapangan sehingga terjadi keberhasilan dalam tugasnya untuk memberikan penyuluhan dan tindakan terhadap penanggulangan penyakit hewan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

II. PEMBAHASAN

2.1. Penyakit pada Sapi Potong
Penyakit merupakan hal yang sangat merugikan dalam usaha ternak sapi potong, baik usaha pembibitan maupun penggemukkan. Oleh karena itu usaha pencegahan dan pengendalian penyakit sangat diperlukan agar sapi yang dipelihara tetap sehat.
Tanda-tanda sapi sehat adalah sebagi berikut:
  • Nafsu makan besar dan agakrakus
  • Minum teratur (kurang leibih 8 kali sehari)
  • Mata merah, jernih dan tajam, hidung bersih, memamah biak bila istirahat
  • Kotoran normal dan tidak berubah dari hari kehari
  • Telinga sering digerakkan, kaki kuat, mulut basah
  • Temperatur tubuh normal (38,5-39) C dan lincah
  • Jarak/siklus berahi ternak teratur (terutama sapi betina/induk)
Tanda-tanda sapi sakit adalah:
  • Mata suram, cekung, mengantuk, telinga terkulai
  • Nafsu makan berkurang, minumnya sedikit dan lambat
  • Kotoran sedikit, ,mungkin diare atau kering dan keras
  • Badan panas, detak jantung dan pernapasan tidak normal
  • Badan menyusut, berjalan sempoyongan
  • Kulit tidak elastis, bulu kusut, mulut dan hidung kering
  • Temperatur tubuh naik-turun
Dalam peternakan sapi potong ada berbagai macam jenis penyakit, baik itu yang disebabkan manajemen yang kurang baik, bakteri, virus, parasit dan agen penyebab penyakit yang lain.

2.1.1. Penyakit Antrax (Radang Limpa)
Penyakit ini tergolong zoonosis disebabkan oleh bakteri Basillus anthracis. Kuman Antrax dapat membentuk spora dan tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, bahan kimia dan desinfektan.
 Oleh sebab itu hewan yang mati karena Antrax dilarang untuk dilakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka peluang bagi organisme ini membentuk spora. Faktor yang mempercepat penularan penyakit ini adalah musim panas, kekurangan makanan dan keletihan.
Penularan dari hewan ke hewan terjadi lewat makanan dan minuman yang tercemar bakteri antrax. Infeksi pada hewan juga dapat berasal dari tanah yang tercemar spora Antrax. Bakteri Antrax masuk ke dalam tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara atau tertelan bersama makanan dan minuman. Penularan antrax ke manusia umumnya terjadi secara langsung yaitu kontak dengan hewan penderita melalui luka, atau bahan asal hewan seperti bulu yang terhirup melalui pernafasan dan melalui saluran pencernaan bagi orang yang memakan daging hewan penderita Antrax.
Gejala klinis yang dapat diamati pada hewan :
·         Umumnya bersifat akut dan per-akut disertai infeksi menyeluruh
·         Kematian mendadak
·         Demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi
·         lemah, ambruk
·         Diare
·         Peradangan pada Limpa
·         Perdarahan berwarna hitam pekat seperti teer dari
·         lubang–lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus,
·         pori-pori kulit)
·         Kesulitan bernafas
Gejala klinis pada manusia antara lain :
·       Antrax tipe kulit umumnya ditandai dengan lesi (semacam borok) yang khas dimulai dari bintil kecil berwarna merah, menimbulkan rasa gatal yang kemudian meluas dan terbentuk jaringan parut berwarna hitam
·         Pembengkakan kelenjar limfe regional
·         Infeksi menyeluruh dapat terjadi pada penyakit yangberlanjut
·    Antrax tipe pernafasan umumnya diikuti dengan gejala sesak di daerah dada yang disertai dengan kebiruan dan umumnya diikuti kematian dalam waktu 24 jam
Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Ternak
2.1.2. Septichaemia Epizootica (SE/Ngorok)
Penyebab penyakit ini adalah kuman Pastuerella multocida serotipe 6B dan 6 E, kuman ini suka hidup ditempat yang dingin dan lembab. Faktor pemicu terjadinya infeksi berupa; cekaman atau stess seperti terlalu banyak dipekerjakan, pemberian pakan yang berkualitas rendah, kandang yang penuh dan berdesakan, dan kondisi pengangkutan yang melelahkan pada ternak.
Penularan dari hewan sakit ke hewan yang sehat atau pembawa terjadi melalui kontak makanan dan minuman serta alat-alat tercemar ekskreta hewan penderita (air liur, urin dan feses). Kuman yang jatuh ke tanah, bila mendapatkan kondisi yang lembab dan dingin dapat berkembang dan menulari hewan ternak yang digembalakan di tempat tersebut.
Gejala Klinis yang dapat diamati :
·         Keluar air liur terus menerus
·         Kesulitan bernafas (ngorok)
·         Kondisi tubuh lemah dan lesu
·         Suhu tubuh meningkat sampai diatas 41 0C
·         Tubuh gemetar
·         Selaput lendir kemerahan
·         Terdapat busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah sampai gelambir
·         Pada bentuk dada terdapat tanda-tanda peradangan paru yang diikuti dengan keluarnya ingus dan kesulitan bernafas Pada kondisi kronis hewan menjadi kurus dan sering batuk, nafsu makan terganggu
Pencegahan:

·          Pada daerah bebas SE dilakukan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan ternak ke daerah tersebut.
·          Bagi daerah tertular dilakukan vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan oil adjuvant setidaknya setahun sekali.
·          Bangkai hewan yang sakit dibakar atau dikubur
·          Bersihkan kandang dengan disinfektan
·          Pengobatan dilakukan dengan antibiotika Oxytetracyclin,
·          Streptomycin atau Preparat sulfa (sulfamezathine).
·          Ternak yang tertular dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Jaringan yang sudah rusak seperti paru-paru harus dibuang dan dimusnahkan dengan dibakar/dikubur. Karkas yang sangat kurus karena penyakit yang berjalan kronis dimusnahkan.
2.1.3. SURRA (TRYPANOSOMIASIS/Penyakit Mubeng)
Penyakit surra merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Parasit inimhidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Menurunnya kondisi tubuh akibat cekaman misalnya stress, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dan sebagainya merupakan faktor yang memicu kejadian penyakit ini. Penularan terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops dan Hematobia serta jenis arthropoda yang lain seperti kutu dan pinjal
Gejala Klinis yang dapat diamati :
·          Gejala Umum meliputi demam, lesu, lemah, nafsu
·          makan berkurang, lekas letih.
·          Anemia, kurus, bulu rontok, busung daerah dagu
·          dan anggota gerak dan akhirnya akan mati.
·          Di daerah endemik ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala.
·          Keluar getah radang dari hidung dan mata.
·          Selaput lendir terlihat menguning.
·          Jalan sempoyongan, kejang dan berputar-putar (mubeng) disebabkan karena parasit berada dalam cairan Cerebrospinal sehingga terjadi gangguan saraf.
·          Pencegahan dapat dilakukan dengan Pembasmian serangga penghisap
Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain
2.2. Pengendalian Penyakit
Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.
 Berikut ini adalah berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit pada sapi :
1)      Pemanfaatan kandang karantina. Sapi potong bakalan yang baru saja di datangkan ada baiknya dipisahkan terlebih dahulu atau dikarantina. Hal tersebut bertujuan untuk memonitoring keadaan sapi sapi baru tersebut, dan juga sebagai cara untuk mebuat sapi beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.Waktu karantina sapi sekitar satu minggu. Pada saat dikarantina, disarankan sapi diberi obat cacing.
2)      Selalu menjaga kebersihan kandang sapi potong. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.
3)      Vaksinasi bisa diberikan terhadap sapi potong baru, khususnya untuk berbagai penyakit menular pada sapi. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat hewan berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi penyakit antraks.
Beberapa tindakan pencegahan penyakit yang umumnya dilakukan adalah pemberian obat cacing. Penyakit cacing tidak membahayakan, namun kerugian yang ditimbulkan cukup besar, karena meskipun ternak diberi pakan dengan kualitas yang baik, pertumbuhannya terhambat.
Pada beberapa daerah basah, rumput yang tumbuh (padang rumput) biasanya telah tercemar oleh telur-telur atau bibit-bibit cacing, sehingga perlu dilakukan pemberian obat cacing pada ternak yang mengkonsumsinya. Berbagai obat cacing yang sering digunakan adalah rintal boli, valbazen, dan lain sebagainya. 
2.2.1. Vaksinasi dan Obat- obatan
Pemakaian dan penggunaan vaksin dan obat-obatanmemerlukan kehati-hatian karena akan berakibat fatal dan merugikan peternak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan :
1.      Selalu membaca label dan ikuti petunjuk penggunaan
2.      secara hati-hati.
3.      Lakukan vaksinasi sesuai dengan jenis vaksinnya
4.      demikian juga dengan aplikasinya
5.      Jangan menggunakan vaksin dan obat-obat yang
6.      kedaluarsa
7.      Jangan mencampur vaksin dan obat-obatan sekaligus.
8.      Berikan obat-obatan sesuai jangka waktu yang
9.      ditentukan.
10.  Simpan obat-obatan ditempat yang sejuk.
11.  Simpan Vaksin dalam lemari es
12.  Pada saat vaksinasi pakailah alat yang steril.
Vaksinasi dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat, jika ada wabah penyakit yang berbahaya, misalnya penyakit mulut dan kuku (PMK), brucellosis (kluron menural), surra, septicemia epizootical/SE 9 (ngorok), antraks (radang limpa) dan tuberkulosis (TBC). Untuk sapi-sapi impor, sebelum masuk ke indonesia biasanya sudah dilakukan vaksinasi terlebih dahulu, baik oleh negara asal ternak maupun petugas karantina ternak pelabuhan


III. KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Untuk dapat melaksanakan kegiatan pengendalian penyakit pada usaha budidaya sapi potong perlu diperhatikan :
1.      Pola pakan
2.      Kebersihan kandang
3.      Kebersihan alat
4.      Kebersihan lingkungan
5.      Program Kesehatan Kelompok Ternak (PKKT)
3.2. Saran
Selalu lakukan sanitasi secara rutin baik pada ternak, kandang dan petugas agar pengendalian dapat berjalan dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA

Akoso.,B.T., Kesehatan Sapi. Panduan bagi petugas teknos, mahasiswa, penyuluh dan peternak. 1996. Kanisius Yogyakarta.
Anonimous. Live Cycle of Nematoda Image.http//www.dpc.cdc.gov/dpdx. Diakses tanggal 18 Mei 2010
Anonimous. Live Cycle of Trematoda Image. http//www.dpc.cdc.gov/dpdx. Diakses tanggal 18 Mei 2010.
Subronto. Ilmu Penyakit Ternak .1995. Edisi I. Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar