Rabu, 12 Desember 2012

Zat-zat Makanan yang Penting bagi Unggas


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada umumnya ternak unggas membutuhkan asupan gizi yang baik bagi pertumbuhannya.  Zat gizi atau nutrien tersebut bisa berupa sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dalam pakan yang dikonsumsinya atau yang dapat disintesis dalam tubuhnya sendiri. Pakan merupakan semua bahan yang dapat dimakan ternak, dicerna, diserap, dan dapat dipergunakan untuk memenuhi  kebutuhannya.
Ternak unggas apabila diberi beberapa  pakan secara terpisah (cafeteria) maka ia akan memilih makanan sesuai dengan kebutuhannuya. Selain itu unggas lebih mengandalkan indra penglihatan untuk memilih pakan, berbeda dengan ruminansia yang mengandalkan penciuman dari pada penglihatannya. Ada beberapa  bentuk pakan (ransum tunggal) yang diberikan pada ternak diantaranya pelletmash (tepung), crumble (butiran), cube (kubus), cake (lempengan), chip (emping) atau hijauan.
Ternak unggas merupakan salah satu sumber pangan utama masyarakat Indonesia dari hasil ternak. Tingkat konsumsi yang sangat tinggi tidak diringi dengan pembudidayaan secara intensif. Apalagi  populasi masyarakat yang semakin meningkat menyebabkan kekurangan pemenuhan konsumsi hasil ternak unggas setiap orangnya. Hal ini disebabkan karena manajemen pemeliharaan yang belum baik dan efektif. Hanya sebagian kecil dari peternakan rakyat yang sudah menerapkan manajemen pemeliharaan yang sesuai dan diikuti dengan penerapan teknologi. Ini merupakan salah satu hambatan dalam peningkatan populasi unggas.
Indonesia merupakan salah satu kawasan tropis di dunia. Kawasan tropis cocok untuk dilakukan pembudidayaan ternak unggas. Selanjutnya peternak memerhatikan ransum yang diberikan terhadap hewan ternaknya, agar ternak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, serta bisa memenuhi kebutuhan pangan manusia.

1.2.  Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui zat-zat makanan yang penting untuk unggas.
1.3.  Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini dapat menjadi salah satu sumber bacaan mengenai zat-zat makanan yang penting untuk pertumbuhan unggas.


II. PEMBAHASAN

2.1. Zat-Zat Makanan yang Dibutuhkan Unggas
Ilmu Nutrisi Unggas adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unggas dengan makanannya atau ilmu tentang zat-zat dan bahan-bahan makanan, kebutuhan terhadap zat-zat makanan, dan cara mempersiapkan serta pemberian ransum untuk unggas.
Zat-zat Makanan yang Dibutuhkan Unggas
  •  Karbohidrat
  • Vitamin
  • Lipid
  •  Protein
  •  Mineral
  •  Air
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi (Suprijatna et al. 2005). 
Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%.
Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya.  Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio).


2.1.1. Karbohidrat
Karbohidrat didefinisikan sebagai zat yang mengandung atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Karbohidrat berasal dari kata karbon dan hidrat, karbon artinya adalah atom karbon dan hidrat adalah air.
Oleh karena itu rumus umum karbohidrat dapat ditulis Cx(H2O)y. Definisi ini hanya berlaku untuk sebagian besar kelompok karbohidrat, karena ada beberapa jenis karbohidrat lain yang mengandung bagian oksigen yang lebih rendah dibandingkan dengan yang ada dalam air atau derivat ada derivat karbohidrat yang mengandung nitrogen dan sulfur.
Karbohidrat merupakan kelompok ketiga terbesar senyawa organik dalam tubuh ternak unggas.. Namun demikian karbohidrat merupakan zat makanan organik terbesar yang ada dalam jaringan tanaman. Kelompok senyawa karbohidrat yang terpenting meliputi glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, pati, glikogen, chitin, dan sellulosa. Karbohidrat yang terdapat dalam tubuh ternak unggas sebagian besar berupa glikogen dan chitin, glikogen dijumpai dalam daging dan chitin dalam kulit dan sisik terutama pada kulit udang.
A. Fungsi Karbohidrat pada Ternak Unggas
Pada ternak unggas zat nutrisi tersebut sangat mutlak diperlukan sebagai sumber energi dibandingkan zat nutrisi protein dan lemak. Keberadaan karbohidrat dalam pakan ternak monogastrik seperti unggas dan kelinci mutlak diperlukan. Karbohidrat dalam pakan ternak unggas umumnya diperlukan untuk :
·         Sumber energi yang murah bagi ternak unggas
·         Penggunaan karbohidrat dapat mengefisienkan fungsi protein dengan menghemat penggunaan protein sebagai sumber energi.
·         Karbohidrat berguna sebagai zat pengikat atau binder antar partikel-pertikel
·         penyusun ransum sehingga dapat meningkatkan stabilitas dan durabilitas pellet.
·         Karbohidrat berguna untuk meningkatkan palatabilitas (kesukaan) pakan.


B. Penggunaan Karbohidrat pada Ternak Unggas
Pada unggas, karbohidrat digunakan sebagai sumber energi utama. Efisiensi penggunaan karbohidrat sebagai zat nutrisi pada ternak monogastrik tergantung kepada jenis ternaknya. Untuk ternak monogastrik jenis unggas, kemampuan menghidrolisis atau mencerna karbohidrat sangat terbatas karena aktivitas enzim selulolitik dalam proses pencernaannya sangat rendah.
 Dengan demikian, tidak semua sumber energi dari karbohidrat, potensial dipergunakan oleh ayam. Misalnya selullosa (bagian rangka dari tanam-tanaman) yang hanya merupakan serat kasar dalam bahan makanan, tidak dapat dicerna oleh pencernaan ayam, karena tidak mempunyai enzim selulolitik dalam saluran pencernaannya. Dengan demikian selullosa hanya pengganjal kasar (bulk) yang tidak esensial pada ransum ayam.
Pada umumnya, bagian-bagian penting dari alat pencernaan adalah mulut, parinks, esophagus, lambung, usus halus dan usus besar. Makanan akan dicerna bergerak melalui mulut sepanjang saluran pencernaan oleh gelombang peristaltik yang disebabkan karena adanya kontraksi otot sirkuler di sekeliling saluran. Usus halus merupakan alat absorbsi yang utama pada ayam broiler, pertama-tama karena mempunyai villi, suatu bangunan seperti jari yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, karena bentuknya mempunyai daerah absorbsi yang luas. Tiap bentuk villi mengandung sebuah anteriole, sebuah venule dan sebuah lakteal, yaitu bagian dari sistem limfatika venula, yang merupakan bagian dari sistem peredaran darah, yang langsung berhubungan menuju vena porta; sedangkan lakteal-lakteal akan menuju duktus limpatikus torasikus.
Broiler juga mempunyai beberapa sekresi yang dimasukkan ke dalam saluran pencernaan, dan banyak sekresi-sekresi ini mengandung enzim-enzim yang menunjang hidrolisa sebagai zat-zat makanan organik. Pencernaan pada broiler umumnya mengikuti pola pencernaan pada ternak non ruminansia, tetapi terdapat berbagai perbedaan. Biasanya, unggas menimbun makanan yang dimakan dalam tembolok, suatu vertikulum (pelebaran) esophagus yang tak terdapat pada non ruminasia lain. Tembolok berfungsi sebagai penyimpanan makanan dan mungkin terdapat adanya aktivitas jasad renik yang ada di dalamnya, dan menghasilkan asam-asam organik. Osephagus, seperti halnya ternak non ruminansia lain, berakhir pada lambung yang mempunyai banyak kelenjar dan di dalamnya terjadi reaksi-reaksi enzimatik.
Namun makanan yang berasal dari lambung masuk ke dalam empela, yang tidak terdapat pada hewan non ruminansia lain. Empela mempunyai otot-otot kuat yang dapat berkontraksi secara teratur untuk menghancurkan makanan sampai menjadi bentuk pasta yang dapat masuk ke dalam usus halus. Jenis karbohidrat yang menjadi sumber energi terbesar pada ayam adalah karbohidrat dari jenis pati. Jagung merupakan sumber pati (energi) yang paling murah untuk penyusunan ransum ayam. Butir-butiran dan biji-bijian juga juga merupakan sumber energi.
Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian karbohidrat yang terlalu tinggi pada ternak unggas akan menurunkan tingkat pertumbuhan dan menaikkan deposit glikogen pada hati dan pada akhirnya menyebabkan penurunan pertumbuhan. Namun pada ternak monogastrik jenis kuda dan kelinci, karena tergolong hewan herbivora dan mempunyai secum pada saluran pencernaannya, pemberian karbohidrat maksimal masih dapat ditoleransi.
Efisiensi penggunaan karbohidrat sebagai nutrien pada ternak unggas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
·         Jenis karbohidrat ; polisakarida dan disakarida mempunyai efek yang lebih menguntungkan terhadap pertumbuhan daripada monosakarida.
·         Keadaan fisik karbohidrat; pati yang dimasak atau digelatinisasi lebih cepat dicerna dan berefek menguntungkan terhadap pertumbuhan daripada pati alami atau tidak dimasak.
·         Pembatasan pemberian karbohidrat; pemberian karbohidrat yang dibatasi akan berefek menguntungkan terhadap kemampuan mencerna karbohidrat tersebut. Penggunaan karbohidrat jenis sellolusa dan hemisellusa pada keadaan yang berlebihan akan mengurangi pertumbuhan ternak unggas efisiensi pakan. Hal ini disebabkan kedua jenis karbohidrat di atas tidak dapat dicerna oleh ternak unggas karena aktivitas enzim selloluse dalam saluran pencernaan ternak unggas lemah atau relatif tidak ada. Selain itu sellolusa dan hemiselulosa ini bersifat tahan terhadap perlakuan kimia asam dan alkali.
2.1.2. Vitamin
Vitamin adalah zat organik yang esensial untuk pertumbuhan dan dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit. Penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin disebut AVITAMINOSIS atau HYPOVITAMINOSIS.
Sebagian besar kebutuhan vitamin bagi unggas telah diketahui dengan tepat, terutama bagi vitamin-vitamin yang jumlahnya tidak cukup dalam ransum sehari-hari. Unggas sangat peka terhadap defisiensi vitamin. Hal tersebut disebabkan karena:
1.      Unggas tidak memperoleh keuntungan dari sintesis vitamin oleh jasad renik di dalam alat pencernaan. Jasad renik usus pada unggas bersaing dengan "tuan rumahnya" sendiri bagi vitamin-vitamin tersebut.
2.      Unggas mempunyai kebutuhan yang tinggi terhadap vitamin, vitamin penting bagi reaksi-reaksi metabolik vital dalam tubuh hewan.
3.      Populasi yang padat dalam peternakan unggas modern menimbulkan berbagai macam stress bagi unggas tersebut, sehingga memerlukan kebutuhan vitamin yang semakin tinggi.
Dalam prakteknya, ransum unggas tidak disusun berdasarkan kadar kebutuhan minimum, karena bahan pakan dapat bervariasi kadar zat-zat pakannya dan lagi pula zat-zat pakan tersebut dapat hilang pada waktu bahan pakan diproses atau selama disimpan.
Perkiraan kebutuhan minimum untuk vitamin bagi unggas diterbitkan oleh National Research Council (NRC) dalam Nutrient Requirements of Poultry. Perkiraan-perkiraan tersebut adalah perkiraan kadar minimum yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi telur atau reproduksi.
Dalam prakteknya, ransum unggas biasanya disusun agar mengandung jumlah vitamin yang lebih banyak dari yang dipaparkan untuk memperoleh batas aman dalam mengimbangi kemungkinan hilangnya vitamin-vitamin tersebut akibat pengolahan bahan pakan, pengangkutan, penyimpanan dan adanya variasi dalam komposisi bahan pakan dan kondisi sekelilingnya.
Bila suatu defisiensi harus timbul, maka hal tersebut biasanya disebabkan karena tidak terdapatnya salah satu zat pakan yang diperlukan atau karena rusaknya satu atau lebih zat-zat vitamin waktu pengolahan bahan pakan tersebut. Vitamin-vitamin yang mudah mengalami kerusakan adalah vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Sedangkan thiamin dan asam panthotenat dapat rusak akibat pengolahan atau penyimpanan.
vitamin adalah ikatan organik yang :
  •  Merupakan komponen dari bahan makanan yang berbeda dengan protein, lemak, karbohidrat maupun air.
  • Terdapat dalam bahan makanan dalam jumlah kecil.
  • Esensial untuk pertumbuhan normal suatu jaringan, kesehatan, pertumbuhan dan pemeliharaan.
  • Jika kekurangan akan menyebabkan gejala-gejala yang spesifik.
  • Tidak dapat disintesa oleh tubuh, oleh karena itu harus terdapat dalam makanan atau berasal dari mikroorganisme dalam alat pencernaan.
Vitamin yang Larut Dalam Air:
  • Vitamin Bl, atau disebut juga aneurin, thiamin, vitamin anti radang syaraf, vitamin anti beri-beri.
  • Vitamin B6 atau disebut adermin atau pyridoxine.
  •  Nicotinamid atau disebut juga niacin, PP- faktor, anti pellagra faktor
  • Asam folat disebut juga faktor M (Megaloblastik anaemia) atau: folacin.
  • Asam panthotenat atau vitamin anti dermatitis. 
  •  Vitamin B12 atau cyanocobalamin.
  •  Cholin atau faktor pencegah pelemakan hati.
  • Vitamin C
Vitamin yang Larut Dalam Lemak
  • Vitamin A atau disebut juga anti xerophthalmia, anti infeksi, vitamin pelindung epithel, retinol, retinal, atau retinoic acid.
  • Vitamin D atau disebut vitamin anti rakhitis. Ada dua macam vitamin D yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Vitamin D2 disebut kalsiferol atau ergokalsiferol, sedangkan vitamin D3 disebut kolekalsiferol atau 7-dehidrokolesterol.
  • Vitamin E disebut juga vitamin anti sterilitet atau alpa tokoferol.
  •  Vitamin K disebut juga menadion, menapthone, vitamin anti haemorrhagi atau phylloquinone.
A. VITAMIN B1
Vitamin B1 terdapat dalam hati, telur, air susu, daging, biji-bijian terutama yang dikecambahkan, tomat, wortel, dll.
Vitamin Bl merupakan suatu senyawa yang mengandung nitrogen yang merupakan penggabungan dari pyrimidin dan cincin thiazole.
Defisiensi vitamin Bl dapat menyebabkan :
  • Pada unggas: penyakit polineuritis/radang syaraf. Gejalanya adalah kelumpuhan syaraf kaki dan syaraf leher hingga kepala terkulai kebelakang.
  • kekurangan vitamin B2 adalah sebagai berikut :
  • Pada anak ayam: kaki lumpuh .dengan ujung jari melengkung kedalam "curled-toe paralysis" dan biasanya diikuti dengan gejala diare yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu tiga minggu.
  • Pada ayam petelur: produksi dan daya tetas menurun .
  • Kekurangan vitamin ini akan mengakibatkan :
  • Pada anak ayam: nafsu makan berkurang, tak berdaya untuk mematuk makanan, lari-lari kian kemari, jatuh pingsan dan berdiri lagi
  • Pada ayam dewasa: defisiensi yang ringan mengakibatkan produksi telur dan daya tetas menurun.
  • Convulsi (kekejangan) rupanya merupakan gejala umum kekurangan vitamin ini pada semua spesies hewan
B. NICOTINAMIDE
Vitamin ini dalam bahan makanan tidak berbentuk sebagai nicotiamide, tetapi sebagai asam nikotinat dan baru berubah menjadi nicotinamide setelah masuk dalam tubuh. Kacang tanah, gandum. daging dan ikan merupakan bahan yang kaya akan nicotinamid.
 Sebagaimana disebut diatas, vitamin ini dalam tubuh hewan mempunyai fungsi sebagai komponen dari dua koensim, yaitu koensim I atau DPN (diphosphopyridine nucleotide) atau NAD, (nicotinamide adenine dinucleotide) dan koensim II atau TPN (triphosphopyridins nucleotide) atau NADP (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate).
Gejala kekurangan vitamin ini adalah:
  • Pada ayam terjadi pembesaran pada sendi tibiotarsal, paha bengkok, pertumbuhan bulu jelek dan ada gejala dermatitis. Ada juga gejala black tongue pada unggas.
C. ASAM FOLAT
Bahan makanan yang banyak mengandung asam folat adalah: hijauan, gandum, daging dan kacang-kacangan.
Vitamin ini tersusun dari inti pteridine yaitu asam p-aminobenzoat dengan asam glutamat. Defisiensi asam folat pertama dikemukakan oleh Wills (1931) dengan diketemukannya anemia macrocytic pada wanita hamil di India dimana makanan utamanya hanya terdiri dari nasi putih.
gejala kekurangan asam folat adalah :
  •   Pada ayam: pertumbuhan terhambat, bulu jelek, depigmentasi, ada gejala anemia dan perosis.
D. ASAM PANTHOTENAT
Kacang-kacangan, kuning telur, ginjal, hati dan ragi merupakan sumber asam patotenat yang baik. Skim milk, ketela rambat dan molasses sedikit mengandung asam pantotenat. Asam pantotenat telah berhasil diisolasi dari hati dan ragi. Asam pantotenat merupakan gugus prostetik dari koensim A mempunyai fungsi dalam reaksi acetilasi pada karbohidrat, lemak dan metabolisme asam amino.
 Gejala kekurangan asam pantotenat adalah :
  •   Pada ayam: pertumbuhan badan dan bulu terhenti, granulasi pada mata sehingga mata tertutup, kudis disekitar mulut, luka-luka pada badan dan kaki dan kerusakan pada medulla.

E. VITAMIN B12       
Semula vitamin ini dikenal sebagai "animal protein factor" (APF) karena hanya terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewan seperti telur, hati, air susu, ikan dan sebagainya.
Tetapi dalam kotoran sapi ditemukan adanya vitamin B12 yang berarti ada sintesa vitamin B12 dalam rumen. Vitamin B12 berperan serta dalam sintesa asam nucleat, mungkin pada perubahan dari ribose ke deoxyribose dan pada pembentukan gugus methyl pada thiamine.
Pada ayam dan hewan lain gejala yang spesifik adalah pertumbuhan yang tidak baik dan kegagalan fungsi reproduksi dengan sedikit gejala anemia atau tidak sama sekali.
F. CHOLINE
Berguna dalam pembentukan dan pemeliharaan sel-sel tubuh penting dari lecithin dan sebagai methyldonator. Bahan makanan yang banyak mengandung choline adalah kacang-kacangan, ragi, ikan, hati dan lain-lain. Gejala kekurangan cholin pada ayam adalah gangguan pertumbuhan dan gangguan pembentukan kuning telur.
G. VITAMIN C
Semua spesies kecuali manusia, kera, dan kelelawar India mempunyai ensim tertentu yang dapat mensitesa vitamin C. Ensim ini adalah L-gulonolactone oxidase.
Jadi dapat dikatakan bahwa vitamin C adalah esensial untuk semua hewan/spesies, tetapi tidak esensial secara diet bagi hewan ternak.
H. VITAMIN A
Vitamin A adalah faktor pelengkap makanan yang pertama diindentifikasi sebagai komponen spesifik dari makanan. Sifat Kimiawi Vitamin A terdapat dalam produk ternak terutama dalam bentuk alkohol yaitu Retinol, dan didalam tubuh ternak tersimpan dalam bentuk gabungan dengan asam lemak, terutama asam palmitat
I. VITAMIN D
               Gejala Defisiensi Pada hewan dewasa menyebabkan penyakit osteomalasia. Pada ternak unggas kekurangan vitamin D menyebabkan tulang dan paruh lunak, pertumbuhan terhambat, dan produksi telur rendah
J. VITAMIN E
Vitamin E bersifat antioksidan didalam sel, sehingga mencegah oksidasi asam lemak tidak jenuh yang banyak terdapat pada dinding sel. Juga berpartisipasi pada respirasi jaringan yaitu pada sistim ensim sitokrom reduktase dan menjaga struktur lipid pada mitokondria dari kerusakan oksidatif. Berperan pada phosporilasi keratin phospat, ATP.
 Vitamin E juga berperan pada sintesa asam askorbat, metabolisme asam nukleat dan asam amino mengandung belerang.
K. VITAMIN K
 Nama vitamin K diambil dari huruf pertama kata Koagulation (bahasa Denmark). Pada tahun 1939 Dam dkk. berhasil mengisolasi vitamin K murni dari alfalfa.
Gejala Defisiensi
        Ternak unggas. Gejala defisiensi biasanya timbul setelah 2-3 minggu ayam diberi makan tanpa vitamin K.
Adanya obat sulfa seperti sulfa quinoksalin baik dalam pakan atau air minum akan menambah parah gejala defisiensi ini. Kekurangan ini akan memperpanjang waktu penggumpalan darah dan dapat menyebabkan pendarahan jika ternak mengalami luka. Gejala yang sering terlihat adalah adanya hemoragi pada dada, paha, sayap, dan pada permukaan intestinum. Ayam menunjukkan gejala anemia.
2.1.3. Lemak
Lipid adalah senyawa heterogen yang terdapat dalam jaringan tanaman dan hewan, mempunyai sifat tidak larut dalam air dan larut dalam pelarut organik. Salah satu kelompok yang berperan penting dalam nutrisi adalah lemak dan minyak. Lemak tersimpan dalam tubuh hewan, sedangkan minyak tersimpan dalam jaringan tanaman.
Lipid dapat digunakan sebagai pengganti protein yang sangat berharga untuk pertumbuhan, karena dalam keadaan tertentu, trigliserida (fat dan oil) dapat diubah menjadi asam lemak bebas sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi metabolik dalam otot unggas dan monogastrik. Lipid dapat berguna sebagai penyerap dan pembawa vitamin A, D, E dan K.
Fungsi lipid:
  •     Lipid berfungsi sebagai sumber asam lemak esensial, 
  •     Bersifat sebagai pemelihara dan integritas membran sel,
  •   Sebagai prekursor hormon-hormon sex seperti prostagtandin, hormon endrogen dan estrogen,
  •   Berfungsi sebagai pelindung organ tubuh yang vital, 
  •     Sebagai sumber steroid, yang sifatnya meningkatkan fungsi-fungsi biologis yang penting,
  •     Bertindak sebagai pelicin makanan yang berbentuk pellet, sebagai zat yang
mereduksi kotoran dalam makanan dan berperan dalam kelezatan makanan.
Pada umumnya lemak dan minyak yang terdapat dalam bahan makanan (tanaman) dan dalam cadangan lemak hewan berbentuk gliserida, yaitu esterisasi dari asam lemak dan gliserol. Lemak dan minyak merupakan bahan bakar atau energi yang tersimpan dalam hewan dan tanaman.
Disamping lemak dan minyak, cadangan energi tersimpan dalam bentuk pati dan glikogen. Minyak tanaman dibuat dari karbohidrat, hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa tanaman yang berbuah masak kandungan patinya akan menurun sedangkan lemaknya meningkat. Demikian pula lemak hewan dapat dibuat dari karbohidrat. Berbeda dengan tanaman, hewan juga bisa menyimpan lemak dalam tubuhnya dalam bentuk “lemak ingested”. Perbedaan lemak dan minyak adalah minyak dalam suhu kamar berbentuk cair sedangkan lemak berbentuk semi padat. Fosfolipid adalah ester dari asam lemak dan gliserol.
Berdasarkan komponen nitrogen yang tersedia, fosfolipid dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu lesitin (nitrogen dasarnya adalah cholin) dan sefalin (nitrogen dasarnya adalah etanolamin). Fospfolipid berperan penting sebagai pengemulsi dalam sistem biologis dan secara khusus dilibatkan dalam transportasi lemak dalam tubuh. Fospfolipid berperan dalam pengemulsian lipid dalam saluran pencernaan dan sebagai unsur lipoprotein.
2.1.4. Protein
Protein berasal dari kata Yunani “proteios” yang berarti pertama atau kepentingan utama. Sesuai namanya, protein sangat penting sebagai penyusun dari semua kehidupan sel dan merupakan kelompok kimia terbesar didalam tubuh setelah air. Daging rata-rata mengandung 75% air, 16% protein, 65% lemak , dan 3% abu. Protein merupakan komponen esensial dari inti sel dan protoplasma sel. Oleh sebab itu protein jumlahnya besar dalam jaringan otot karkas, organ-organ dalam, syaraf, dan kulit.
Fungsi protein pada unggas adalah sebagai berikut :
  • Sebagai zat pembangun, protein berfungsi untuk memperbaiki kerusakan atau penyusutan jaringan (perbaternak dan pemeliharaan jaringan) dan untuk membangun jaringan baru (pertumbuhan dan pembentukan protein).
  • Protein dapat dikatabolisasi menjadi sumber energi atau sebagai substrat penyusun jaringan karbohidrat dan lemak.
  • Protein diperlukan dalam tubuh untuk penyusun hormon, enzim dan substansi biologis penting lainnya seperti antibodi dan hemoglobin.
Gejala-gejala yang timbul akibat kekurangan dan kelebihan protein.
Kekurangan :
  •   Menurunya pertumbuhan.
  •   Meningkatnay deposisi lemak dalam tubuh karena kelebhan energy dalam tubuh tidak di pakai untuk pertumbuhan, sehingga disimpan dalam bentuk lemak.
Kelebihan :
  •   Sedikit penurunan pada pertumbuhan.
  •   Penurunan kandungan lemak tubuh.
  •   Meningkatnya sam urat dalam tubuh.
  •   Meningkatnya konsumsi air karena di perlukan untuk mengeluarkan asam urat
Stress yang di tandai dengan membesarnya kelenjar adrenal dan meningkatnya produksi adrenokortikosteroid.
Protein adalah komponen utama dalam jaringan tubuh unggas. Persentasinya di dalam tubuh unggas berada dalam posisi ke dua setelah air, yaitu berkisar antara 18 – 30 persen. Protein merupakan suatu polimer heterogen dari ratusan bahkan ribuan molekul senyawa asam amino. Sejumlah asam amino akan saling berikatan satu sama lain dengan perantaraan ikatan peptida untuk membentuk protein.
Tingkat kebutuhan protein bagi setiap jenis unggas tidak sama, bahkan pada satu species unggas yang sama, kebutuhan proten dapat berbeda. Unggas membutuhkan protein sekitar 24 – 57 persen dari berat total makanan, namun kebutuhan optimumnya berkisar antara 30 – 36 persen. Jika protein yang dikonsumsi tidak mencapai kebutuhan akan mengganggu kecepatan pertumbuhan. Biaya yang diperlukan untuk menyediakan protein di dalam makanan dapat mencapai lebih dari 60 persen dari biaya pakan unggas, penggunaan protein seoptimal mungkin sangat penting dalam pemeliharaan unggas.
Pengetahuan tentang sumbersumber pakan perlu dipelajari, antara lain mengenai : harga, ketersediaan, komposisi zat pakan termasuk asam amino dan kecernaannya dalam tubuh unggas. Pengelolaan dan pencampuran sumber-sumber pakan yang tidak baik dapat berakibat kurang tersedianya protein atau asam amino pakan yang dapat dicerna. Hal ini disebabkan karena ketersediaan asam amino dan protein pada pakan antara lain dipengaruhi oleh: keseimbangan asam amino esensial yang tersedia dalam pakan, perlakuan panas dan kimia terhadap pakan, pencucian pakan di dalam air, kandungan serat kasar pakan, serta kandungan sumber energi lain di dalam pakan seperti lemak dan karbohidrat.
 Asam amino adalah unit dasar dari struktur protein. Semua asam amino sekurang-kurangnya mempunyai satu gugus asam karboksil (-COOH) dan satu gugus amino (-NH2) pada posisi alfa dari rantai karbon yang asimetris, sehingga dapat terjadi beberapa isomer. Asam amino mempunyai sifat optik aktif dengan adanya isomerisasi dan dalam larutan bersifat amfoter yaitu dapat bereaksi dengan asam basa tergantung dari lingkungannya.
Asam amino esensial/EAA (esensial amino acid) yaitu asam amino yang harus disediakan dalam pakan karena ternak tidak mampu mensintesanya. Yang termasuk asam amino esensial adalah: Lysin, Methionine, Valin, Histidin, Fenilalanin, Arginine, Isoleusin, Threonin, Leusin, dan Triptofan. Asam amino non esensial/NEAA (non esensial amino acid) adalah asam amino yang dapat disintesa dalam tubuh dari sumber karbon yang tersedia dan dari gugus amino dari asam amino lain atau dari senyawa-senyawa sederhana seperti diamonium sitrat, sehingga tidak harus disediakan dalam pakan.
2.1.5. Mineral
Mineral merupakan salah satu zat nutrisi yang sangat esensial untuk kehidupan unggas dan organisme akuatik lainnya. Berdasarkan jumlah kebutuhan dan keberadaan dalam tubuh unggas, mineral dibedakan atas dua kelompok yaitu makro mineral dan mikro meineral. Makro mineral terdiri dari phosphor, kalsium, maagnesium, sodium, potasium, klor, dan sulfur. Mikro mineral terdiri dari besi, seng, mangan, tembaga, kobalt, iodin, selenium dan kromium.
Fungsi utama mineral dalam tubuh unggas adalah sebagai berikut :
  1.  Penyusun penting dalam struktur skeleton (tulang dan gigi) dan esoskeleton.
  2. Penting dalam pemeliharaan tekanan osmotik dan mengatur perubahan air dan larutan dalam tubuh unggas.
  3. Berguna sebagai penyusun struktur jaringan lunak unggas.
  4. Penting untuk transmisi impuls syaraf dan kontraksi otot.
  5. Berperanan vital di dalam keseimbangan asam-basa tubuh, dan mengatur pH darah dan cairan tubuh lainnya.
  6. Berguna sebagai komponen penting dari banyak enzim, vitamin, hormon, pigmen pernafasan atau sebagai kofaktor dalam metabolisme, katalis dan aktifator enzim.
Akibat defisiensi atau kekurangan salah satu mineral dapat menyebabkan pertumbuhan menurun, efisiensi pakan rendah, demineralisasi pada tulang, deformati skeletal, pengapuran abnormal dari tulang rusuk dan sirip punggung, , anoresia, dan sebagainya.
 Sumber yang kaya mineral terdapat pada hampir semua jaringan hewan dan tumbuhan. Umumnya jaringan hewan lebih banyak mengandung mineral dibandingkan dengan jaringan tanaman. Mineral yang terdapat dalam jaringan tanaman terikat dengan senyawa-senyawa organik lainnya seperti asam phytic, sehingga untuk penggunaannya mineral tersebut harus terlebih dahulu diberi perlakuan pendahuluan seperti dihidrolis dengan enzim atau dengan perlakuan fisik seperti pemanasan dan perendaman.
Tabel 1. Komposisi Mineral pada Tubuh unggas dewasa
(Kandungan dalam 1 kg jaringan bebas lemak)
Mineral
Ayam
Natrium (mEq)                                
51
Kalium (mEq)
69
Klor (mEq) 
44
Kalsium (g)
13
Phospor (g)
7,1
Magnesium (g)
0,50
Besi (mg)
60
Seng (mg)
30
Tembaga (mg)
1,5
Yodium (mg)
0,4

Tabel 2. Komposisi Mineral pada Tubuh unggas baru lahir
(Kandungan dalam 1 kg jaringan bebas lemak)
Mineral
Ayam
Natrium (mEq)                                
83
Kalium (mEq)
56
Klor (mEq) 
60
Kalsium (g)
4,0
Phospor (g)
3,3
Magnesium (g)
0,3
Besi (mg)
38
Seng (mg)
12
Tembaga (mg)
2,8
Yodium (mg)
0,5

2.1.6. Air
Air merupakan komponen darah dan cairan tubuh, pencernaan, transport makanan dan sisa pencernaan, pengatur suhu tubuh, Sumber : air minum, air dalam makanan. Air mempunyai peranan yang sangat vital bagi proses kehidupan ternak, karena air merupakan salah satu penyusunan jaringan tubuh yang sangat penting. Suatu data persentase komposisi dari tubuh hewan menunjukkan bahwa kadar air menurun dengan meningkatnya umur hewan tersebut.  Variasi pada umur tertentu disebabkan terutama oleh keadaan gizi makanan seperti yang terlihat pada penimbunan lemak, pada hewan yang terlalu gemuk mempunyai 40% air.
Air lebih penting peranannya bagi kehidupan dari pada energi, dan minum air menempati posisi ke dua setelah bernafas. Peranan air dalam tubuh erat hubungannya dengan sifat fisik dan kimianya, yaitu:
  1.    Sebagai pelarut zat pakan.
  2.    Sebagai pengangkut zat pakan. 
  3.    Membantu kelancaran proses pencernaan, penyerapan dan pembangunan ampas metabolisme.
  4.    Memperlancar reaksi kimia dalam tubuh. 
  5.    Membantu kelancaran kerja syaraf dan pancaindera. 
  6.    Sebagai bantalan yang melindungi organ dari goncangan /trauma dari luar.
  7.    Sebagai pelicin.
  8.   Untuk mengedarkan zat-zat gizi dari jaringan dan alat tubuh yang satu ke jaringan dan alat tubuh lain.
  9.    Berperan dalam pengaturan suhu tubuh ternak serta dalam pertukaran zat.


III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Kebutuhan nutrisi pada hewan dibedakan menjadi dua yaitu nutrien essensial dan nutrien non-essensial. Nutrien essensial adalah senyawa kimia yang harus terdapat dalam pakan, seperti vitamin dan mineral dan juga beberapa asam amino dan asam lemak (kalau tidak ada maka hewan akan mati). Nutrien non-essensial adalah senyawa kimia yang hewan dapat memproduksi dari molekul lain (tidak terlalu penting).
3.2. Saran
Dalam beternak unggas zat-zat pakan adalah yang terpenting, karena bahan makanan dan zat-zat makanan yang diterima unggas bisa mempengaruhi kualitas telur, pertumbuhan, dan kualitas daging untuk ayam broiler.




DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Edisi kesatu. PT Gramedia,
Jakarta.
Leeson, S. and J.D. Summers. 2001. Commercial Poultry Nutrition. University Books Guelph.
Tillman, D.A., Hari Hartadi, Soedomo R, Soeharto P, dan Soekarno L. 1986. Ilmu
makanan ternak dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

2 komentar: